Ketika massa berkumpul dan tensi mulai memanas, tugas untuk menjaga ketertiban jatuh ke tangan Polri. Lebih dari sekadar peluit dan tameng, ada strategi yang terstruktur dan terukur di balik setiap gerakan mereka. Oleh karena itu, penting untuk mengupas taktik pengendalian massa yang diterapkan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), terutama oleh Satuan Samapta Bhayangkara (Sabhara) dan Korps Brigade Mobil (Brimob). Mengupas taktik ini akan memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana aparat bekerja untuk meredam potensi kerusuhan. Dengan mengupas taktik yang mengedepankan logika, bukan emosi, kita bisa melihat profesionalisme Polri.
Prinsip utama dalam pengendalian massa adalah de-eskalasi, yaitu upaya untuk mengurangi ketegangan dan mencegah eskalasi konflik. Tahapan pertama adalah negosiasi dan komunikasi. Tim negosiator Polri, yang sering kali didampingi oleh Polisi Wanita (Polwan), bertugas untuk menjalin komunikasi dengan koordinator unjuk rasa. Tujuannya adalah untuk memahami tuntutan massa dan mencari solusi damai. Sementara itu, tim Sabhara ditempatkan di garis terdepan dengan formasi yang solid, membawa tameng dan tongkat untuk melindungi diri dan menghalau potensi serangan. Keterangan dari Kepala Bagian Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Dodi Prasetyo, S.I.K., M.H., menyebutkan bahwa pada 15 Mei 2025, pukul 11.00 WIB, timnya berhasil menenangkan massa aksi dengan negosiasi yang berlangsung selama satu jam. “Dialog adalah senjata utama kami. Kami tidak ingin menggunakan cara-cara yang represif,” ujar Kombes Pol Dodi.
Namun, jika negosiasi gagal dan massa mulai bertindak anarkis, tahap selanjutnya adalah intervensi yang terukur. Di sinilah peran Brimob menjadi sangat krusial. Brimob dilatih untuk bergerak dengan formasi yang rapi dan terorganisir. Peralatan yang mereka gunakan, seperti mobil water cannon atau gas air mata, berfungsi untuk memecah konsentrasi massa, bukan untuk melukai. Setiap tindakan yang diambil telah melalui pelatihan yang ketat dan sesuai dengan prosedur standar operasional. Pada 15 Mei 2025, pukul 14.30 WIB, ketika beberapa provokator mulai melempar batu, satu peleton Brimob dikerahkan. Mereka maju secara perlahan, menggunakan mobil water cannon untuk mendorong mundur massa. Tidak ada kontak fisik yang terjadi, dan situasi berangsur-angsur kondusif.
Pada akhirnya, mengupas taktik pengendalian massa ala Polri menunjukkan bahwa pendekatan mereka didasarkan pada logika dan prosedur yang jelas. Mereka tidak bertindak berdasarkan emosi, melainkan berdasarkan tahapan dan skenario yang telah direncanakan. Dari peluit yang ditiup untuk memberikan aba-aba, tameng yang menjadi benteng pertahanan, hingga logika yang menjadi dasar setiap pengambilan keputusan, setiap elemen memiliki peran penting. Dengan strategi yang terstruktur ini, Polri berusaha untuk menjalankan tugasnya dengan profesionalisme, memastikan hak masyarakat untuk berpendapat tetap terlindungi, sementara ketertiban umum tetap terjaga. Ini adalah bukti nyata bahwa kekuatan tidak selalu harus berujung pada kekerasan.