Dalam beberapa tahun terakhir, teknologi biometrik telah menjadi standar keamanan utama dalam berbagai aplikasi perbankan dan dompet digital karena dianggap lebih praktis dan aman dibandingkan kata sandi konvensional. Namun, seiring dengan diadopsinya teknologi yang masif, muncul pula risiko baru yang perlu diperhatikan oleh masyarakat luas. Perlu adanya langkah antisipasi pembajakan yang serius mengingat para peretas kini mulai mengembangkan teknik canggih untuk memalsukan atau mencuri data biologi pengguna. Meskipun sidik jari bersifat unik bagi setiap individu, data digital yang merepresentasikan pola tersebut tetap memiliki kerentanan untuk sensor atau dimanipulasi melalui perangkat lunak perantara jika sistem keamanan pada perangkat keras ponsel pintar tidak diperbarui secara rutin oleh pemiliknya.
Keamanan pada akses finansial berbasis sidik jari sering kali menjadi target empuk karena sekali data tersebut berhasil dikloning, dampaknya akan jauh lebih permanen dibandingkan kebocoran PIN atau password . Pelaku kejahatan siber dapat menggunakan teknik pemindaian resolusi tinggi dari sisa sidik jari yang tertinggal di permukaan benda atau melalui serangan malware yang menyusup ke dalam sistem operasi untuk merekam input biometrik secara ilegal. Oleh karena itu, akses finansial berbasis sidik jari seharusnya tidak menjadi satu-satunya lapisan pertahanan dalam mengelola dana di ruang digital. Pengguna sangat disarankan untuk tetap mengaktifkan fitur login dua faktor (2FA) sebagai barisan pelindung tambahan guna memastikan bahwa setiap transaksi besar memerlukan verifikasi ganda yang tidak hanya mengandalkan satu jenis identitas biologis saja.
Pihak kepolisian melalui unit siber terus mensosialisasikan langkah antisipasi pembajakan dengan memberikan edukasi mengenai bahaya mengunduh aplikasi dari sumber yang tidak resmi ( third-party apps ). Sering kali, aplikasi ilegal tersebut mengandung skrip tersembunyi yang mampu mengambil alih kendali sensor biometrik pada perangkat ponsel. Selain itu, masyarakat dihimbau untuk selalu membersihkan layar perangkat mereka dan tidak membiarkan orang lain meminjam ponsel dalam keadaan tidak terkunci. Kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan fisik perangkat juga berkaitan erat dengan keamanan data, karena jejak sidik jari yang jelas pada layar dapat dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk membuat replika tiruan yang mampu mengelabui sensor pemindai pada akses finansial berbasis sidik jari yang kurang sensitif.