Posisi geografis pesisir Riau yang berhadapan langsung dengan negara tetangga sering kali dijadikan jalur utama bagi pengiriman tenaga kerja tanpa dokumen resmi yang berisiko tinggi. Upaya penyelundupan manusia melalui jalur laut kembali digagalkan setelah jajaran kepolisian mencium adanya pergerakan PMI ilegal yang sedang dikumpulkan di sebuah gudang tersembunyi dekat pelabuhan rakyat. Para calon pekerja migran ini dijanjikan pekerjaan dengan gaji tinggi di Malaysia tanpa harus melalui prosedur imigrasi yang sah, yang sebenarnya merupakan jebakan perdagangan orang. Polres Dumai melakukan tindakan pencegahan ini sebagai bentuk perlindungan terhadap warga negara agar tidak terjebak dalam situasi kerja paksa atau eksploitasi saat berada di luar negeri tanpa payung hukum yang jelas.
Dalam operasi penyisiran yang dilakukan pada dini hari tersebut, petugas menemukan puluhan orang yang berasal dari berbagai daerah di luar Sumatera sedang menunggu jemputan kapal motor menuju perbatasan. Sindikat pengirim PMI ilegal ini menggunakan strategi keberangkatan pada jam-jam rawan untuk menghindari pantauan radar patroli air dan petugas syahbandar. Mereka sengaja memilih jalur “tikus” atau dermaga tradisional yang minim penerangan guna memuluskan aksi kriminalitas transnasional ini. Saat dilakukan pemeriksaan, terungkap bahwa para calon pekerja tersebut tidak dibekali dengan paspor maupun visa kerja yang valid, melainkan hanya dijanjikan akan diurus administrasinya setibanya mereka di pelabuhan tujuan secara gelap di tengah hutan bakau.
Keberhasilan Polres Dumai dalam meringkus otak di balik pengiriman PMI ilegal ini menjadi bukti nyata keseriusan Polri dalam memberantas tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Polisi mengamankan beberapa tersangka yang berperan sebagai perekrut, penyedia tempat penampungan, hingga nakhoda kapal yang bertugas menyeberangkan orang secara sembunyi-sembunyi. Dari hasil penyidikan, diketahui bahwa setiap calon pekerja diminta menyetor sejumlah uang yang cukup besar sebagai biaya operasional keberangkatan yang sangat tidak manusiawi. Tindakan tegas ini tidak hanya menyelamatkan puluhan nyawa dari risiko kecelakaan laut di Selat Malaka yang ganas, tetapi juga memutus mata rantai eksploitasi manusia yang sudah sangat meresahkan masyarakat luas di wilayah perbatasan Indonesia.