Selat Malaka merupakan jalur pelayaran tersibuk di dunia, namun wilayah di sekitar perairan Dumai sering kali menjadi titik rawan aksi Bajak Laut Dumai. Kelompok kriminal laut ini biasanya mengincar kapal-kapal tangker atau kapal kargo yang sedang mengantre masuk pelabuhan atau yang sedang melaju lambat di area penyempitan jalur. Aksi mereka tidak hanya berupa pencurian barang muatan, tetapi juga perampokan terhadap barang-barang berharga milik awak kapal dan peralatan navigasi yang mahal. Keberadaan mereka menciptakan ketegangan konstan bagi personel Polairud (Kepolisian Perairan dan Udara) yang harus berjaga 24 jam untuk mengamankan kedaulatan laut Indonesia.
Operasi yang dilakukan oleh Bajak Laut Dumai sering kali sangat cepat dan terorganisir. Mereka menggunakan kapal cepat (speed boat) bermesin ganda yang mampu melesat di tengah kegelapan malam tanpa lampu navigasi agar tidak terdeteksi oleh radar kapal besar. Para pelaku biasanya memanjat lambung kapal menggunakan tali pengait saat awak kapal sedang lengah. Dalam melakukan aksinya, mereka sering membawa senjata tajam atau senjata api untuk mengintimidasi korban. Meskipun skalanya sering dianggap sebagai pencurian kecil (petty theft) di mata internasional, dampak psikologis dan kerugian material yang ditimbulkan sangat mengganggu kelancaran perdagangan internasional di wilayah Dumai.
Personel Polairud menghadapi tantangan besar dalam memberantas Bajak Laut Dumai karena luasnya wilayah patroli dan banyaknya pelabuhan tikus di sepanjang pesisir Riau yang dijadikan tempat persembunyian. Kejar-kejaran di tengah laut lepas sering kali terjadi, di mana para pembajak tidak ragu untuk melakukan manuver berbahaya atau membuang barang bukti ke laut saat akan disergap. Selain itu, minimnya alat deteksi malam hari di beberapa unit patroli kecil membuat pergerakan pembajak sering kali sulit diantisipasi. Dibutuhkan sinergi yang kuat antara Polairud, TNI Angkatan Laut, dan otoritas pelabuhan untuk menciptakan sistem pengamanan berlapis di wilayah perairan yang strategis ini.
Upaya penanganan terhadap Bajak Laut Dumai kini mulai ditingkatkan dengan penggunaan teknologi drone pengawas dan penguatan intelijen di desa-desa nelayan. Masyarakat pesisir diedukasi untuk tidak terlibat dalam membantu persembunyian para pelaku dan diminta segera melaporkan aktivitas kapal-kapal mencurigakan yang melaut di jam-jam tidak wajar. Peningkatan frekuensi patroli bersama dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura di Selat Malaka juga terbukti efektif menekan angka kejadian pembajakan. Sanksi hukum yang sangat berat menanti para pelaku kejahatan laut ini sesuai dengan undang-undang pelayaran dan hukum pidana yang berlaku.